Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kami. Shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada junjunan kita baginda Rasulullah Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufik kepada kami sehingga artikel singkat ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa tidak ada yang ideal dan sempurna, sebab selalu ada sisi lemah dan kurang dalam penulisan artikel ini. Untuk itu, segala saran dan masukan sangat dinantikan untuk penyempurnaan artikel ini Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Pendidikan Islam menurut Drs. Ahmad D Marimba yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam. Dengan pengertian lain, sering kali beliau menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam[1]. Sedangkan Menurut Drs. Burlian Somad, pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk indidvidu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu, yaitu ajaran Allah SWT. Secara terperinci, beliau mengemukakan “pendidikan itu disebut pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas yaitu Tujuannya membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut ukuran Al-Quran, dan Isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Quran yang pelaksanaannya dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW[2].

Sekolah Islam yang ideal adalah sekolah yang melibatkan peran serta guru, orang tua dan masyarakat sesuai dengan proporsinya. Artinya, sekolah yang merupakan lembaga melahirkan generasi yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama antara negara, sekolah, orang tua dan masyarakat. Pengelolaan sekolah yang efektif mestinya melibatkan peran serta keempat pihak tersebut, sesuai dengan peran dan fungsinya. Negara, dalam hal ini pemerintah, memberi dukungan, kemudahan dan perlindungan bagi terselenggaranya sekolah, Orang tua dapat memberi masukan, membantu memperkaya proses belajar, menjadi nara-sumber dan fasilitator dalam berbagai kegiatan sekolah. Masyarakat dapat membantu menyediakan sumber dan fasilitas belajar tambahan yang ada di luar sekolah.

Lingkungan yang baik juga merupakan salah satu kriteria penting bagi sekolah Islam. Lingkungan yang bersih, rapih, sehat dan nyaman merupakan syarat mutlak bagi sekolah Islam. Sekolah Islam seharusnya juga mampu menciptakan suasana pergaulan dan interaksi yang Islam, santun, saling menyayangi dan menghormati, saling melindungi dan saling berbagi. Cerminan sekolah Islam yang baik juga ditunjukkan oleh warganya yang tertib, disiplin dan rapih.

Salah satu cara mencapai mutu pendidikan islam diantaranya menciptakan kultur sekolah yang bersih dari pengaruh negatif masyarakat, program full-day school dan boarding school merupakan alternatif yang dapat dilakukan. Sekolah berfungsi untuk mengintroduksikan kurikulum pendidikan secara formal sesuai dengan jenjang yang ada. Asrama merupakan sarana di luar sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan formal. Sikap disiplin, kemandirian, kepemimpinan dan tanggung jawab dapat diciptakan dalam asrama. Sedangkan masjid merupakan pusat kegiatan keislaman siswa. Di masjid, siswa akan melakukan shalat berjamaah, pembinaan kepribadian dan kegiatan lainnya. Jika ketiganya diintegrasikan, diharapkan akan tercipta budaya sekolah yang ideal.

Dalam meningkatkan Mutu Pendidikan Islam serta upaya menghadapi tantangan hingga saat ini, kita menyadari bahwa secara umum kondisi lembaga Pendidikan Islam di Indonesia masih ditandai oleh berbagai kelemahan, yaitu: (1) Kelemahan sumber daya manusia (SDM), manajemen dan dana, (2) Hingga saat ini lembaga pendidikan islam masih belum mampu mengupayakan secara optimal mewujudkan islam sesuai cita-cita idealnya, (3) Kita masih melihat lembaga pendidikan islam belum mampu mewujudkan islam secara transformative, (4) Lembaga tinggi pendidikan islam belum mampu mewujudkan masyarakat madani, dan (5) Hingga saat ini, output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan islam belum maksimal sesuai dengan keinginan masyarakat.

Inilah bentuk lain dari tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan islam. Hal ini harus diantisipasi sejak dini supaya lembaga pendidikan islam tetap eksis di tengah-tengah persaingan saat ini. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi tantangan tersebut adalah: (1) Mengembangkan tradisi ilmiah di lembaga pendidikan islam, (2) Mengaktifkan setiap komponen kurikulum supaya berfungsi lebih maksimal, (3) Meningkatkan keprofesionalitas guru, (4) Meningkatkan pengelolaan, dan (5) Menyediakan fasilitas sarana dan prasarana.

Target semuanya ada dengan tercapainya konsekuensi keimanan seorang muslim dalam seluruh aktivitas kesehariaannya. Identitas kemusliman akan nampak pada kepribadian seorang muslim, yakni pada pola berpikir (aqliyah) dan pola bersikapnya (nafsiyah) yang distandarkan pada aqidah Islam. Islam mendorong setiap muslim untuk maju dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu, baik ilmu yang berkaitan langsung dengan Islam (tsaqofah Islam) maupun ilmu pengetahuan umum (iptek). Menguasai ilmu kehidupan (iptek) dimaksudkan agar umat Islam dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini.

[1] Drs A Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, PT Al Maarif, Bandung, 1980, hlm.23-24
[2] Drs Burlian Somad, Beberapa Persoalan dalam Pendidikan Islam, PT Al Maarif, Bandung, 1981, hlm 21
#SMA Al-Ammar
#Habibi