Beranda blog

Sejarah Bahasa Indonesia dan Raja Ali Haji

raja ali hadi

Nusantara telah mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan sejak abad ke 14 yang awalnya di pakai dalam berdagang. Malaka merupakan awal berkembangnya kesusasteraan di mulai. Kepiawaian menulis dan ilmu literasi di ajarkan yang merupakan awal dari kepiawaian berbahasa dan menjadi bagian penting kebudayaan Melayu.

Peradaban Melayu di mulai saat anak-anak kerajaan Luwu yang disebut Opu Lima bersaudara yang hendak membuka daerah baru dalam menyiarkan Sastra Melayu. Opu Lima bersaudara tersebut berlayar mengitari kepulauan nusantara dan menepi di Malaka. Di Malaka Opu Lima bersaudara tersebut menikah dengan anak-anak pejabat kesultanan Malaka dan mendapat kekuasaan di pulau Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Puncak ketenaran Riau saat di perintah oleh Raja Haji Fi Sabililllah sebagai  YDM Riau IV, Riau menjadi Bandar yang maju dari segi ekonomi, militer, dan pusat berkembangnya ilmu pengetahuan sehingga  banyak di datangi oleh orang dari segala penjuru negeri, baik itu yang hendak berdagang maupun yang hendak belajar dan belajar ilmu agama atau ilmu tulis menulis. Kegiatan kesusasteraan menjadi bagian penting dalam kebudayaan Melayu. Raja Haji merupakan salah satu tok   oh Riau yang memiliki kemampuan dalam berbahasa, dengan kemampuan tersebut Raja Haji Fi Sabilillah mampu melakukan diplomasi dan bekerjasama dengan kerajaan di Nusantara. Hal ini dianggap pihak VOC bahwa dengan kemampuan tersebut dapat menyatukan kekuatan nusantara. Maka pada tahun 1782 terjadi pertempuran antara pihak VOC dan pasukkan Riau yang di pimpin oleh Raja Haji Fi Sabilillah di Selat Riau. Pada tahun 1784, terjadi pertempuran di Teluk Ketapang. Dalam pertempuran tersebut Raja Haji Fi Sabilillah tewas tertembak.

Tewasnya Raja Haji membuat Riau tidak lagi menjadi negeri yang merdeka secara utuh, segala urusan pemerintahan di atur oleh pihak VOC. Pihak VOC membuat sebuah kontrak kepada pemimpin Riau. Kontrak itu berkaitan dengan segala urusan pemerintahan kerajaan Riau di bawah kendali pemerintah Hindia Belanda seutuhnya yang disebut kontrak politik yang di mulainya kolonialisme Hindia Belanda di tanah Riau tahun 1784. Pusat pemerintahan Riau-Lingga di pindahkan ke Pulau kecil yang bernama pulau penyengat tahun 1785. Sejak saat itu, secara mutlak para pemimpin Riau harus memiliki kemampuan berbahasa. Ada satu tokoh putra Riau yang sadar bahwa kolonialisme tidak hanya merampas kemerdekaan rakyat Melayu, tetapi juga merusak  tatanan budaya Melayu yang terpancang kokoh dalam  kesusastraan dan  bahasa yaitu yang bernama Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji lahir di Pulau Penyengat tahun  1808, sebagai anak keturunan bangsawan Raja Ali Haji mendapatkan pelajaran tentang ilmu pengetahuan yang tidak semua orang dapatkan, dan ia telah menunjukkan ketertarikan pada bidang sastra dan bahasa.

Raja Ali Haji sering diikutsertakan dalam kegiatan diplomasi oleh ayahnya Raja Ahmad, membuatnya banyak bertemu para petinggi pemerintahan Hindia Belanda yang mahir dalam berbahasa Melayu. Tahun 1830 Raja Ali Haji menunaikan ibadah haji di Mekah. Ia memperdalam ilmu agama dan belajar ilmu tasawuf yang akan memberi pengaruh besar dalam setiap karyanya. Di Mekah, Raja Ali Haji menulis karya pertamanya yang berjudul “Gurindam Dua Belas” yang berisi tentang kehidupan manusia berdasarkan Al qur’an dan ilmu tasawuf. Setelah 2 tahun berada di Mekkah, Raja Ali Haji kembali ke Riau, Sekembalinya Raja Ali Haji, beliau membangun Penyengat sehingga banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai daerah.

Raja Ali Haji juga memperhatikan peta perpolitikan Riau, dimana pada tahun 1824 tercetus perjanjian antara Inggris dan Belanda yang membagi daerah kekuasaan yaitu Kepulauan Riau menjadi daerah kekuasaan Hindia-Belanda, Tumasik dan Malaka menjadi kekuasaan Inggris. Hal tersebut membuat termasuk tumbuh menjadi negeri yang Metropolis yang kental akan westernisasi dan pada akhirnya membuat penggunaan bahasa tidak lagi sesuai aturan. Ini membuat kecemasan bagi Raja Ali Haji tentang masa depan bahasa Melayu yang sepertinya semakin tergerus oleh westernisasi.

Raja Ali Haji menulis sebuah karya tentang tata bahasa dan memikirkan pentingnya sebuah percetakan sebagai sarana untuk pemerataan bahasa. Karya tersebut diberi judul “Bustanul Katibin” yang berarti Taman para penulis, berisi tentang pelajaran dasar tentang bahasa, aturan ejaan huruf Jawi, dan deskripsi tata bahasa Melayu. Kemudian karya yang berjudul  kitab pengetahuan bahasa yang menjadi kamus “ensiklopedia ekabahasa Melayu” merupakan jawaban kekhawatiran beliau terhadap kebudayaan asing yang mengikis bahasa Melayu.

Raja Ali Haji mengusulkan kepada kerajaan Riau agar mengeluarkan dana yang besar di bidang pendidikan sehingga tidak hanya kalangan bangsawan saja yang mendapatkan pendidikan tetapi seluruh rakyat Riau maupun orang yang datang ke Riau mendapatkan ilmu pengetahuan yang sama Sampai Akhir hayatnya Raja Ali Haji mengajarkan kan kan dan sastra ke seluruh rakyat Riau maupun orang yang datang ke Riau, yang banyak melahirkan sastrawan-sastrawan untuk melanjutkan perjuangan beliau dalam pemerataan bahasa di seluruh Nusantara.

Pada awal tahun 1900 terbentuk sebuah organisasi perkumpulan sastrawan se-asia Tenggara bernama  “Rusydiyah Klub” yang merupakan organisasi yang bergerak di bidang budaya dan kesusastraan. “Rusydiyah Klub” membangun sebuah percetakan dan perpustakaan bernama Al Ahmadiyah press di Tumasik seperti yang di inginkan Raja Ali Haji sebagai sarana untuk pemerataan bahasa. Al Ahmadiyah press menerbitkan karya-karya Raja Ali Haji dan disebarkan ke seluruh Nusantara.

Raja Ali Haji wafat pada tahun 1873 ga dan dimakamkan di Pulau Penyengat atas sumbangsihnya kepada negara raja Ali Haji diangkat menjadi pahlawan nasional melalui ketetapan Presiden Nomor 089 tahun 2004 sebagai Bapak Bahasa Indonesia. 

Sebagaimana pada Kongres Pemuda tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda menghasilkan 3 keputusan yaitu pertama, Kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.  Kedua, kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Adapun  dalam perjalanannya, bahasa Indonesia mengalami  perubahan baik dari segi makna maupun ejaan. Perubahan pertama, yakni pada tahun 1896 menggunakan ejaan Van ophujsen yang merupakan ejaan Melayu yang dipahami Belanda  yang yang dan digunakan dari tahun 1896 sampai 1947. Kedua, ejaan soewandi atau ejaan Republik yang digunakan dari tahun 1947 sampai 1971. Ketiga, ejaan yang disempurnakan atau EYD yang ditetapkan kan pada tahun 1972  yang digunakan hingga saat ini.

Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu:

  1. Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
  2.  Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  3.  Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
  4.  Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas..

PROGRAM WAQAF SEJUTA BUKU SMA SAINS PLUS TAHFIDZ QUR’AN AL-AMMAR

SMA sains plus tahfidz Quran Al Ammar telah menyediakan fasilitas perpustakaan untuk menampung 1 juta buku yang akan disimpan di Cordoba library. Untuk mewujudkan perpustakaan yang cukup memadai bagi siswa/i, kami membutuhkan banyak buku dari berbagai judul yang berbeda maka dari itu kami membuka program wakaf sejuta buku untuk Cordoba library sebagai bentuk melestarikan budaya keilmuan, budaya membaca, bagi anak-anak generasi penerus bangsa terutama bagi siswa-siswi Al Ammar, mahasiswa se Sumatera Utara, masyarakat Deli Serdang dan sekitarnya. Kami membuka program wakaf ini kepada siapa saja yang ingin mewakafkan bukunya baik dalam keadaan baru maupun bekas dan layak untuk disimpan di perpustakaan sekolah kami.
Pengadaan Buku di Cordoba Library untuk mendukung pencapaian tujuan:

  • Pusat literasi se sumatera utara
  • Untuk siswa/i agar terciptanya kwalitas sumber daya manusia yang taqwa, intelektual, dan profesional dengan ditunjang dengan media pembelajaran berupa perpustakaan yang lebih lengkap.
  • Sebagai sarana literasi bagi mahasiswa/i yang ingin atau sedang melakukan penelitian.
  • sebagai sarana bagi masyarakat umum ataupun pelajar dari sekolah lain mendapatkan bahan bacaan lebih lanjut.
  • Ikut berpartisipasi membantu program Pemerintah dibidang Pendidikan dan mengentaskan kebodohan dan memberdayakan siswa lingkungan sekolah pada tingkat “grassrots” yang sangat esensial.
  • Mengantarkan siswa/i untuk menjadi generasi yang cerdas dan kreatif menuju masyarakat madani.

    Adapun jenis-jenis buku yang kami butuhkan:
  • mushaf
  • buku sirah/sejarah
  • buku sains
  • buku ilmu pengetahuan sosial
  • kamus
  • buku sastra
  • buku hukum
  • buku agama islam
  • buku mahir komputer
  • buku filsafat
  • buku ekomoni
  • turats/kitab ulama
  • atlas
  • peta dunia
  • dll

Penutupan Rangkaian Acara Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75 & Peringatan 1 Muharram 1442 Hijriyah

Tanjung Morawa, dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75 dan peringatan 1 Muharram 1442 Hijriyah SMA sains Plus Tahfidz Quran Al Ammar menyelenggarakan “Fun Bike” yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi, guru-guru, maupun staf selingkungan Yayasan bunayya Abdullah. Tak ketinggalan SMK Einstein school juga ikut serta dalam kegiatan “Fun Bike” ini. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 30 Dzulhijjah dengan titik start SMA Sains Plus Tahfidz Quran al Ammar menuju Jalan Bandara Kuala Namu sampai ke Aviano Backpacker Syariah hotel yang berada di sekitaran Bandara Kualanamu Deli Serdang kemudian Memutar Balik kembali ke SMA Sains Plus Tahfidz Quran Al Ammar.

Pendiri Yayasan Bunayya Abdullah Yaitu Bapak Abdullah mengatakan kegiatan ini adalah sebagai kegiatan penutupan dari rangkaian acara peringatan dirgahayu Republik Indonesia yang ke 75 dan peringatan 1 Muharram 1442 Hijriyah yang dimulai pada tanggal 15 Agustus 2020 dan juga sebagai sarana memperkenalkan siswa-siswi SMA Sains Plus Tahfidz Quran al Ammar kepada masyarakat sekitar Medan senembah, Tanjung Morawa, Deli Serdang dan juga sebagai sarana mempererat silaturrahim di antara staf selingkungan Yayasan bunayya Abdullah dan juga kepada masyarakat di sekitar SMA sains Plus tahfidz Qur’an Al Ammar.

Pada acara Fun Bike kali ini dimenangkan oleh seorang siswi kami bernama Salsabila Syahputri, dengan jarak tempuh yang sudah ditentukan oleh panitia pelaksana sejauh 50 km dengan izin Allah, Alhamdulillah semua siswa siswi berhasil melewati Medan dengan jarak tempuh 50 km tanpa ada masalah ataupun cidera yang diakibatkan oleh kelelahan mengayuh sepeda. Ini membuktikan bahwa kekuatan yang diberikan dari menghafal Alquran benar-benar menjaga mereka “karena sesungguhnya bukan kita yang menjaga Alquran di dalam hati maupun pikiran kita tetapi sesungguhnya Alquran itulah yang menjaga jiwa dan raga kita” sehingga dengan izin Allah mereka semua kuat dalam segala aktivitas jasmani maupun rohani. Kita doakan semua siswa-siswi ini kedepan menjadi anak muda yang tangguh yang sabar dalam menghadapi cobaan sebagai bentuk apa yang ingin dicapai dari mengayuh sepeda yang cukup jauh pasti membutuhkan kesabaran dan tenaga yang cukup besar karena sesungguhnya seorang Muslim yang kuat itu lebih Allah cintai daripada muslim yang lemah. Untuk melanjutkan perjuangan kedepan kita membutuhkan anak-anak muda yang tangguh baik fisik maupun mental.

Dari itu semua besar harapan kami kepada siswa-siswi SMA sains Plus Tahfidz Qur’an Al Ammar untuk mampu mengemban tugas dakwah mempertahankan keutuhan bangsa dan Agama. Acara ini ditutup dengan pembagian hadiah kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan “Fun Bike” dan kepada pemenang yaitu Salsabila Syahputri diberikan hadiah yang sepantasnya semoga kedepan acara-acara seperti ini bisa kita laksanakan setiap tahunnya. Barakallah fiik.

Habis Gelap Terbitlah Terang

_Kartini yang Bersahaja_
Kartini adalah seorang gadis Jepara yang dilahirkan pada tanggal 21 April 1879. Kartini memiliki darah seorang bangsawan dari Ayahnya yang bernama Mas Adipati Ario Sosroningrat. Saat itu, ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara yang memiliki garis keturunan dari Hamengkubuwana VI hingga sampai ke garis keluarga istana Kerajaan Majapahit. Ibunya sendiri, M.A. Ngasirah, menurut catatan sejarah Pemerintah Daerah D.I. Yogyakarta merupakan anak dari ulama ternama di tanah Jepara, yakni Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono yang merupakan guru ngaji di daerah Teklukawur, Jepara.Di masa kecil, Kartini kerap dipanggil sebagai Raden Ayu Kartini. Namun, ia sebenarnya tidak suka dengan panggilan Reden Ayu. Hal ini diketahui saat pertama kali ia diberi gelar Raden Ayu oleh ayahnya setelah Kartini pulang sekolah. Setelah peristiwa itu, Kartini kerap memikirkan gelar kebangsawanannya itu. Diperhatikannya, di sekelilingnya sudah banyak perempuan yang dipanggil Raden Ayu sebagaimana dirinya. Kartini pun lalu berusaha mempelajari makna dibalik panggilan tersebut. Sehingga suatu hari ia tahu bahwa status kebangsawanannya dengan panggilan Raden Ayu tidak ada yang bisa dibanggakan. Ia lebih senang dengan “Kartini” saja.

_Sudut Pandang yang Disembunyikan_
Presiden Pertama Indonesia Soekarno mengingatkan agar para ulama (cendikiawan) jangan hanya mampu mampu membaca abunya sejarah, tapi harus menangkap apinya sejarah. Hal ini terjadi ketika distorsi penulisan sejarah nasional yang justru bertentangan dengan realitas sejarah Indonesia, termasuk ketika terjadi perdebatan panjang soal sejarah perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini, yang diperingati hari kelahiran pada 21 April 1879 sebagai Hari Kartini atau jamaknya emansipasi wanita.Ini lah yang dikemukakan Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah, Buku yang akan mengubah pandangan anda terhadap sejarah Indonesia yang banyak terdistorsi dan tidak apa adanya. Buku yang akan menambah wawasan pengetahuan anda tentang kebenaran sejarah Indonesia yang bahkan sudah menjadi ‘makanan’ pelajar Indonesia sejak dini. Buku ini terdiri dari 2 jilid dan cukup tebal, jiliid pertama berwarna hitam bertuliskan Api Sejarah berwarna merah, dan buku kedua berwarna merah. Nah, sejarawan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini menyuguhkan hal yang berbeda dari sekelumit kisah RA Kartini yang terkenal dengan korespondensi berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang atau dalam versi Belanda; Door Duisternis tot Licht daripada apa yang kita dapat sedari sekolah dasar.Sebuah tulisan jeritan pemberontakan RA Kartini  (1879-1904) yang hidup di era pemberlakuan sistem adat dan sistem tanam paksa yang menyengsarakan rakyat. Goresan pena putri bangsawan Jepara ini ditujukan kepada Abendanon Direktur Departemen Pendidikan, Kerajinan dan Agama, Ny Abendanon, Nn Stella Zeehandelaar, Ny Marie Ovink Soer yang merupakan istri Residen Jepara, Ir H.H van Kol, Anggota Tweede Kamer Ny Nellie van Kol, dan Dr Adriani.Padahal, sezaman dengan RA Kartini itu, ada pula tokoh emansipasi dan feminisme yang kini dijadikan rujukan wanita Indonesia hingga sekarang, bahkan terlupakan juga Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung, Jawa Barat. Kiprah Dewi Sartika tak boleh dipandang sebelah mata dalam memajukan pendidikan kaum hawa, hingga bisa setara dengan kaum adam yang mendominasi.Dewi Sartika bukan hanya beretorika atau berwacana, tapi sudah mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Sekolah Keutamaan Istri pada 1910. Di era itu, ada pula Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir di Padang, Sumatera Barat yang mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setai (1911) dan Rohana (1916).Nah, dua penulis sejarah yang coba meluruskan sesuai realitas dan tak terjadi distorsi seperti yang diingatkan Bung Karno, adalah Prof Harsja W Bachtiar serta Prof Ahmad Mansur Suryanegara. Kedua ahli sejarah ini pun sepakat bahwa Kartini adalah sosok yang sengaja diciptakan Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat, justru menginspirasi kemajuan perempuan yang bisa dinikmati wanita Indonesia hingga kini.

_Kartini dan Kecintaan Pada Pengetahuan dan Qur’an_
Lewat Gerakan Politik Etis di masa kolonial yang digawangi kelompok humanis Belanda, memang mampu melahirkan sosok Kartini yang tercerahkan. Padahal, Ahmad Mansur Suryanegara menegaskan Kartini juga menjadi sosok penentang politik kristenisasi yang menjalar ke kalangan bangsawan di Jepara. Berbeda dengan Mansur, Ridwan Saidi yang juga sejarawan dan budayawan Betawi ini justru mengatakan Belanda gagal mengajak Kartini untuk studi ke Negeri Kincir Angin, hingga akhirnya mengirim orang-orang Yahudi dan Nasrani agar membuatnya tak lagi kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.Seperti tercantum dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, serta literatur lainnya menyebutkan bahwa Belanda mendatangkan orang-orang yang dekat dengan Kartini untuk mempengaruhi pemikirannya seperti  J.H.Abendanon, E.F. Abendanon, DR Adriani, Annie Glasser, Stella Ny Van Kol, dan Snouck Hurgronie. Atas saran Christian Snouck Hurgronje yang mendorong J.H Abendanon memberi perhatian khusus kepada RA Kartini, terlebih lagi Hurgronje dikenal sebagai sosok yang mengenal dalam ajaran Islam karena berlatar belakang seorang orientalis. Hingga akhirnya, korespondensi antara Kartini dengan Abendanon, serta elit Belanda lainnya, dan melahirkan karya Habis Gelap, Terbitlah Terang itu.Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya, sebetulnya sosok Kartini yang cerdas tak hanya tertarik pada pemikiran Barat, tapi justru juga mendalami  pemikiran Islam. Dahaga Kartini ini terobati ketika bertemu KH Mohammad Sholeh bin Umar (Kyai Sholeh Darat) dalam pengajian bulanan khusus keluarganya. “Justru dari surat menyurat Kartini itu terbaca nilai Islam di mata rakyat yang terjajah. Kristen justru dinilai merendahkan derajat bangsa karena para gerejawan justru memihak pada politik imperialisme dan kapitalisme,” tulis Ahmad Mansur.Ia menjelaskan dalam surat itu justru tertera kekaguman Kartini terhadap nilai ajaran Alqur’an dalam surat menyuratnya dengan Abendanon. “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami,” tulis Kartini. Yang dimaksud gunung kekayaan itu adalah nilai ajaran Alqur’an sebagai keagungan hakikat kehidupan, seperti dikutip Ahmad Mansur Suryanegara.Ketertarikan Kartini terhadap tafsir Qur’an, seperti surat Al-Fatihah karena sering berdiskusi dengan Kiai Sholeh Darat. Selama ini, Kartini memang hanya bisa membaca kitab suci umat Islam itu, belum mengetahui arti dan makna yang terkandung dalam tiap ayat, hingga Kiai Sholeh akhirnya tergugah. Kemudian, ia menerjemahkan Alqur’an dalam bahasa Jawa sebagai hadiah kepada Kartini, serta tafsir Qur’an berjudul Faizhur Rohman Fiil Tafsiril Qur’an jilid 1 yang terdiri dari 13 juz.Seperti yang ditulis para sejarawan nasional itu, justru Kartini akhirnya menentang praktik zending atau upaya kristenisasi di negeri Hindia Belanda. Bahkan, Kartini justru bertekad untuk memperbaiki citra Islam usai membaca tafsir Qur’an yang dihadiahkan Kiai Sholeh tersebut, karena selama ini menjadi sasaran dari kebijakan kolonialisme Belanda. Hal ini terbaca lagi-lagi dalam surat Kartini yang masyur. Justru, Belanda gagal menjadikan Kartini sebagai kader dengan merecoki ala pemikiran Barat, dan sosok Kartini malah menjadi penentang kolonialisme dan kapitalisme.Begitu dalam surat Kartini kepada Ny Abendanon seperti berbunyi : “ Tadinya kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar paling baik tiada tara, maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganngap masyarakat Eropa itu sempurna? dapatkah ibu menyangkal dibalik tindakan masyarakat ibu, banyak hal-hal yang tidak patut disebut sebagai peradaban?”Dari argumen para sejarawan nasional seperti Prof. Ahmad Mansur Suryanegara serta Prof Harsja W Bachtiar meyakini bahwa ada sebuah ayat yang sangat membekas di hati Kartini yakni ayat 257 QS Al-Baqarah yang menyatakan bahwa Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya.  Sebab itulah, menurut para sejarawan itu akhirnya judul kumpulan tulisan RA Kartini itu mengutip ayat tersebut, hingga akhirnya berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang.Selamat Hari Kartini. (21 April 2020).

*Oleh Zein.* 
(diringkas dari buku Api Sejarah halaman 279-282)

sumber tulisan:
1. Suryanegara, Ahmad Mansur.2009. Api Sejarah .Bandung : Salamadani
2. https://www.boombastis.com/fakta-kartini/69290Attachments area

Menuju Target “Mutu Pendidikan Sekolah Islam”

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kami. Shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada junjunan kita baginda Rasulullah Muhammad SAW. Kami bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufik kepada kami sehingga artikel singkat ini dapat terselesaikan. Kami menyadari bahwa tidak ada yang ideal dan sempurna, sebab selalu ada sisi lemah dan kurang dalam penulisan artikel ini. Untuk itu, segala saran dan masukan sangat dinantikan untuk penyempurnaan artikel ini Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Pendidikan Islam menurut Drs. Ahmad D Marimba yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam. Dengan pengertian lain, sering kali beliau menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam[1]. Sedangkan Menurut Drs. Burlian Somad, pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk indidvidu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu, yaitu ajaran Allah SWT. Secara terperinci, beliau mengemukakan “pendidikan itu disebut pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas yaitu Tujuannya membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut ukuran Al-Quran, dan Isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Quran yang pelaksanaannya dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW[2].

Sekolah Islam yang ideal adalah sekolah yang melibatkan peran serta guru, orang tua dan masyarakat sesuai dengan proporsinya. Artinya, sekolah yang merupakan lembaga melahirkan generasi yang berkualitas menjadi tanggung jawab bersama antara negara, sekolah, orang tua dan masyarakat. Pengelolaan sekolah yang efektif mestinya melibatkan peran serta keempat pihak tersebut, sesuai dengan peran dan fungsinya. Negara, dalam hal ini pemerintah, memberi dukungan, kemudahan dan perlindungan bagi terselenggaranya sekolah, Orang tua dapat memberi masukan, membantu memperkaya proses belajar, menjadi nara-sumber dan fasilitator dalam berbagai kegiatan sekolah. Masyarakat dapat membantu menyediakan sumber dan fasilitas belajar tambahan yang ada di luar sekolah.

Lingkungan yang baik juga merupakan salah satu kriteria penting bagi sekolah Islam. Lingkungan yang bersih, rapih, sehat dan nyaman merupakan syarat mutlak bagi sekolah Islam. Sekolah Islam seharusnya juga mampu menciptakan suasana pergaulan dan interaksi yang Islam, santun, saling menyayangi dan menghormati, saling melindungi dan saling berbagi. Cerminan sekolah Islam yang baik juga ditunjukkan oleh warganya yang tertib, disiplin dan rapih.

Salah satu cara mencapai mutu pendidikan islam diantaranya menciptakan kultur sekolah yang bersih dari pengaruh negatif masyarakat, program full-day school dan boarding school merupakan alternatif yang dapat dilakukan. Sekolah berfungsi untuk mengintroduksikan kurikulum pendidikan secara formal sesuai dengan jenjang yang ada. Asrama merupakan sarana di luar sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan formal. Sikap disiplin, kemandirian, kepemimpinan dan tanggung jawab dapat diciptakan dalam asrama. Sedangkan masjid merupakan pusat kegiatan keislaman siswa. Di masjid, siswa akan melakukan shalat berjamaah, pembinaan kepribadian dan kegiatan lainnya. Jika ketiganya diintegrasikan, diharapkan akan tercipta budaya sekolah yang ideal.

Dalam meningkatkan Mutu Pendidikan Islam serta upaya menghadapi tantangan hingga saat ini, kita menyadari bahwa secara umum kondisi lembaga Pendidikan Islam di Indonesia masih ditandai oleh berbagai kelemahan, yaitu: (1) Kelemahan sumber daya manusia (SDM), manajemen dan dana, (2) Hingga saat ini lembaga pendidikan islam masih belum mampu mengupayakan secara optimal mewujudkan islam sesuai cita-cita idealnya, (3) Kita masih melihat lembaga pendidikan islam belum mampu mewujudkan islam secara transformative, (4) Lembaga tinggi pendidikan islam belum mampu mewujudkan masyarakat madani, dan (5) Hingga saat ini, output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan islam belum maksimal sesuai dengan keinginan masyarakat.

Inilah bentuk lain dari tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan islam. Hal ini harus diantisipasi sejak dini supaya lembaga pendidikan islam tetap eksis di tengah-tengah persaingan saat ini. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi tantangan tersebut adalah: (1) Mengembangkan tradisi ilmiah di lembaga pendidikan islam, (2) Mengaktifkan setiap komponen kurikulum supaya berfungsi lebih maksimal, (3) Meningkatkan keprofesionalitas guru, (4) Meningkatkan pengelolaan, dan (5) Menyediakan fasilitas sarana dan prasarana.

Target semuanya ada dengan tercapainya konsekuensi keimanan seorang muslim dalam seluruh aktivitas kesehariaannya. Identitas kemusliman akan nampak pada kepribadian seorang muslim, yakni pada pola berpikir (aqliyah) dan pola bersikapnya (nafsiyah) yang distandarkan pada aqidah Islam. Islam mendorong setiap muslim untuk maju dengan cara men-taklif-nya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu, baik ilmu yang berkaitan langsung dengan Islam (tsaqofah Islam) maupun ilmu pengetahuan umum (iptek). Menguasai ilmu kehidupan (iptek) dimaksudkan agar umat Islam dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini.

[1] Drs A Marimba, Filsafat Pendidikan Islam, PT Al Maarif, Bandung, 1980, hlm.23-24
[2] Drs Burlian Somad, Beberapa Persoalan dalam Pendidikan Islam, PT Al Maarif, Bandung, 1981, hlm 21
#SMA Al-Ammar
#Habibi

Wabah Covid-19, Antara Musibah dan Hikmahnya

covid-19

Sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden bahwa wabah covid-19 sudah memasuki Indonesia, pertama kali terdeteksi pada Senin (2 Maret) Jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah dan angka penyebarannya cukup signifikan. Sampai sejauh ini (27 Maret 2020) sudah ada 893 orang yang terinfeksi. Dari angka ini, kasus aktif/tengah dirawat ada 780 pasien, pasien yang meninggal dunia 78 orang, sementara itu pasien yang dinyatakan sembuh ada 35 orang.

Kepanikan pun muncul ditengah masyarakat diisebabkan cepatnya penyebaran virus ini dan orang yang terinfeksi kian bertambah yang diberitakan baik TV maupun media online baik berita online ataupun social media. Tidak hanya dikota besar, juga merambah kedaerah daerah, desa desa di Indonesia.

Efek dari kepanikan ini pun menjadi penyakit social tersendiri bagi masyarakat. Misalnya saja yang terjadi, pasokan masker (medical mask) yang sekarang malah jadi langka karena terus diburu masyarakat, setelah sebelumnya sebagian masyarakat memborong masker sebanyak banyaknya demi mementingkan keselamatan diri sendiri. Kemudian sama halnya dengan hand sanitizer. Kedua barang ini tiba tiba saja menjadi barang berharga dan langka dipasaran, jikapun ada harga medical mask yang umumnya dijual 30rb – 40rb per kotak mejadi 300-350rb perkotaknya.

Semua tentu takut menghadapi kematian. Apalagi kita yakin bekal kita masih kurang untuk menghadapinya. Namun ada rasa takut akan kematian yang tercela dan ada pula yang tidak tercela. Yang tercela bila rasa takut tersebut didasari akan cinta yang berlebihan pada dunia sehingga melupakan akhirat. Dalam hal ini, sangatlah berkenaan dengan hadits Rasulullah:
…وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
…Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, Syaikh Al-Bani mengatakan shahih kata)

Fokus pada redaksi hadits ini terkait pembahasan kita adalah kata wahn. Makna wahn itu ialah seperti yang disebutkan Rasulullah yaitu “cinta dunia dan takut mati”. Jika kita lihat keadaan sekarang ini, maka apa yang lebih berbahaya dari covid-19 itu sendiri adalah keserakahan manusia disebabkan penyakit wahn tersebut. Alih-alih membantu sesama, orang kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri, disisi lain, hal yang sama juga dilakukan distributor yang bukannya mengupayakan bagaimana pasokan masker itu tetap ada, tapi lebih memilih mengambil keuntungan dengan meninggikan harganya berkali lipat. Begitu juga dengan hand sanitizer. Sekalipun mungkin orang bias membuat sendiri hand sanitizer dengan membeli bahan dasarnya, ternyata bahan dasar tersebut pun ikut meroket.

Namun disisi lain, terdapat pula banyak hikmah dibalik wabah yang melanda umat manusia ini (covid-19). Seperti yang kita ketahui sebagai seorang muslim kita memahami bahwa tiada hal yang terjadi melainkan semuanya atas izin Allah azza wa jalla. Dan apa yang terjadi itu tidak ada sesuatu hal pun dibaliknya melainkan pastilah ada hikmahnya.

Pertama dari apa yang telah kita bahas diatas, yaitu masker. Berkaitan dengan ini, sebelum terjadinya wabah covid-19 ini, kita ketahui bahwa niqab/ cadar yang merupakan penutup tambahan yang dikenakan wanita muslim yang benar-benar ingin menjaga diri dari kemaksiatan, selalu disalah artikan, selalu di diskreditkan dan dikaitkan dengan ciri terorisme, na’udzubillah. Apa yang terjadi setelah wabah ini? Dinyatakan bahwa orang yang teraman sebagai lawan interaksi ditengah wabah yang melanda ini adalah mereka yang mengenakan niqab/cadar. Tentu pembalikan keadaan ini adalah melalui kuasa Allah dan hikmah dibalik wabah covid-19.

Kemudian kebiasaan membersihkan diri. Mencuci wajah, tangan, dll. Maka kebiasaan ini tentunya adalah hal yang biasa bagi seorang muslim, yakni berwudhu. Malah, kita sebenarnbya dianjurkan Rasulullah untuk menjaga wudhu sekalipun tidak sedang akan melaksanakan shalat. Maka apa yang menjadi keharusan bagi seorang muslim, tidakcuma sekedar keharusan, semata-mata untuk beribadah, tapi juga mendatangkan manfaat kesehatan bagi yang melakukannya. Maka ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada manusia.

Hikmah lainnya ialah, orang-orang lebih menjaga adab, terutama ketika meludah, bersin, dan batuk. Orang-orang akan sangat berhati-hati ditengah wabah ini ketika mereka batuk/bersin, tidak menutup mulut, ataupun meludah sembarangan. Begitu juga dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, baik kebersihan diri sendiri maupun lingkungannya. Ini, merupakan hal yang bagus dan semoga menjadi habit untuk seterusnya.

Selanjutnya juga, berkurangnya polusi udara secara global. Di negara-negara yang memberlakukan system lockdown demi menekan penyebaran covid-19 ini yang notabene nya merupakan negara maju dengan kepadatan dan tingkat polusi yang sangat tinggi, tingkat polusi menurun drastis karna selama beberapa pekan tidak ada/tidak banyak kendaraan yang digunakan manusia sehari-hari yang mengakibatkan polusi. Ini hal yang sangat menarik sebab jika dikaji ulang, sebenarnya polusi global jauh lebih berbahaya dalam jangka Panjang bagi umat manusia.

Saat China menyatakan lockdown terkait penyebaran virus corona yang semakin menjadi-jadi, citra satelit menunjukkan tingkat polusi yang menurun drastis di langit Negeri Tirai Bambu itu. Kali ini, seperti melansir Science Alert, Selasa (17/3/2020), para astronom menunjukkan penurunan emisi nitrogen dioksida di langit Eropa. Mereka menggunakan instrumen Tropomi pada satelit Copernicus Sentinel-5P, astronom mengambil gambar permukaan Bumi yang diambil dari 1 Januari hingga 11 Maret 2020. Gambar tersebut menunjukkan penurunan nitrogen dioksida, yakni emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri, yang turun secara drastis. “Penurunan emisi nitrogen dioksida di atas Lembah Po di Italia utara sangat nyata,” jelas Claus Zehner, manajer misi Badan Antariksa Eropa ( ESA) Copernicus Sentinel-5P. Zehner mengatakan meski mungkin ada variasi dalam data karena tutupan awan dan perubahan cuaca, namun dia meyakini pengurangan emisi terjadi bersamaan dengan lockdown di Italia. Seperti diketahui, virus corona yang kali pertama mewabah di Wuhan, telah menewaskan ribuan orang. Bahkan hingga saat ini, jumlah korban tewas karena Covid-19 terus bertambah di seluruh dunia. Kendati demikian, menurut, secara konservatif, sangat mungkin nyawa yang diselamatkan secara lokal dari adanya pengurangan polusi akan melebihi kematian akibat Covid-19. Mengingat sejumlah besar bukti bahwa menghirup udara kotor berkontribusi besar terhadap kematian dini.

Hikmah lain ialah kesadaran para perokok akan resiko kesehatannya terkait Covid-19 dan rokok itu sendiri. penelitian yang dilakukan para ilmuan mengatakan bahwa perokok, baik rokok biasa atauupun elektrik jauh lebih rentan terhadap bahaya Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa merokok merusak sistem kekebalan tubuh, menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi, serta meningkatkan peradangan pada tubuh. Sementara studi lain yang diterbitkan di Chinese Medical Journal dengan melibatkan 78 pasien covid-19, menunjukkan bahwa mereka yang memiliki riwayat merokok memiliki risiko 14 % lebih tinggi terkena pneumonia atau radang paru-paru – yang menjadi penyakit paling umum setelah terinfeksi covid-19. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk secara konkret menghubungkan merokok dengan covid-19. Namun berdasarkan apa yang sudah diketahui tentang bahaya merokok kiranya masuk akal untuk mengurangi risiko infeksi covid-19 dengan berhenti merokok dan menghisap vape – selain ada banyak manfaat kesehatan lainnya yang didapat.

Demikian pembahasan kita kali ini, mungkin masih banyak hikmah lain dibalik wabah yang sedang menimpa kita sekarang ini, maka hendaknya kita bersabar, dibarengi dengan ikhtiar.
Semoga kita dapat bermuhasabah dan menyadari betapa bahayanya penyakit Wahn, cinta dunia dan takut mati, yang membuat manusia cenderung serakah dan tidak bersyukur. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala, Aamiin.

Wallahu a’lamu bishshowab.

Sumber:
Al-Qur’an Al-karim
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/17/190300123/dampak-pandemi-virus-corona-pada-lingkungan-polusi-udara-global-turun?
https://mediaindonesia.com/read/detail/297398-awas-perokok-lebih-rentan-terinfeksi-covid-19

Perilaku Islami Cegah Corona

Beberapa waktu terakhir ini, kita digemparkan dengan massif nya penyebaran virus covid-19 atau corona. Hal ini tak cuma di Indonesia yang masih terbilang baru terpapar, tapi juga umat manusia di seluruh dunia. Akibat yang ditimbulkan tidaklah remeh, sampai menggoyangkan stabilitas perekonomian dunia hingga pembatasan setiap negara dalam penerimaan tamu asing termasuk pembatasan dan pemulangan jama’ah Umroh ke Makkah.

Dalam pencegahan virus ini, tindakan yang disarankan oleh WHO adalah dengan menjaga kebersihan, sering mencuci tangan dan mencuci wajah, mengenakan masker, tidak menyentuh wajah setelah bersentuhan dengan orang ataupun fasilitas umum dan lain sebagainya, yang pada intinya ialah menjaga kebersihan diri.

Islam sangat memperhatikan soal kebersihan. Bahkan dalam kajian Fiqih, ulasan mengenai kebersihan dibahas sangat banyak dan dalam pembahasan khusus didalam Islam, didasari dari Al-Quran, juga hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Karna dalam ibadah, utamanya Shalat baik shalat wajib maupun sunnah, umat muslim dituntut untuk terlebih dahulu membersihkan diri dari najis/kotoran yang jika tidak, menyebabkan tidak sah nya shalat.

Berwudhu

Dalam hal ini, umat Islam sedari dasar pendidikannya telah diajarkan tatacara berwudhu (membersihkan sebagian anggota badan dengan air sebelum Shalat yg telah diatur tatacaranya dalam Qur’an dan sunnah Rasullulah). Dalam hadits disebutkan “Telah menceritakan kepada kami (Abu Al Yaman) berkata, telah mengabarkan kepada kami (Syu’aib) dari (Az Zuhri) berkata, telah mengabarkan kepadaku (‘Atha’ bin Yazid) dari (Humran) mantan budak ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa ia melihat (‘Utsman bin ‘Affan) minta untuk diambilkan air wudhu. Ia lalu menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu membasuh setiap kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, “Aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu seperti wudluku ini…” (HR. Bukhari no. 159). Dari hadits tersebut, dapat lah kita garis bawahi apa apa saja yang dibasuh dalam berwudhu mulai dari mencuci tangan, berkumur, membasuh hidung (istinsyaq), kemudian membasuh wajah, lengan hingga siku, sebagian kepala, dan juga membasuh kaki. Ini juga terdapat dalam Al-Quran:
یا أَیهَا الَّذینَ آمَنُوا إِذا قُمْتُمْ إِلَی الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَکُمْ وَ أَیدِیکُمْ إِلَی الْمَرافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُؤُسِکُمْ وَ أَرْجُلَکُمْ إِلَی الْکَعْبَین
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”(QS. Al-Maidah [5]:6).

Islam telah mengajarkan perihal kebersihan, baik mandi, istinja’ (membersihkan najis/kotoran), dan thaharoh (bersuci) baik dalam kebiasaan menjaga kebersihan sehari-hari dan juga untuk keperluan ibadah (shalat).

Dari banyak penelitian yang telah dilakukan, diantaranya ialah Hasil riset tentang wudhu yang dilakukan oleh Leopold Wemer Von Enrenfels, seorang psikiater dan neurology dari Austria. telah diketahui manfaat berwudhu diantaranya:

  1. Meningkatkan Konsentrasi
    Para pakar saraf (neurologis) telah membuktikan, air wudhu yang dapat mendinginkan ujung ujung saraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki. Berguna untuk meningkatkan konsentrasi pikiran dan menjadikan rileks.
  2. Membantu menguatkan otot wajah. Seperti ketika Anda melakukan gerakan berkumur, pasti membersihkan sela-sela gigi dari sisa makanan dan selaput lendir di mulur. Hal ini baik untuk mencegah berbagai penyakit yang timbul di daerah rongga mulut.
  3. Menjaga Kesehatan Pusat Syarat Tubuh
    Pusat-pusat saraf yang paling peka dari tubuh manusia berada di dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat saraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar.
    Sehingga dengan senantiasa membasuh air segar (wudhu) ke pusat saraf tersebut, berarti senantiasa menjaga dan memelihara kesehatan, serta keselarasan pusat saraf.
  4. Meremajakan Kulit
    Masih berasal dari penelitian yang sama, Anda bisa mendapatkan manfaat wudhu bagi kesehatan yang luar biasa. Wudhu juga membuat seseorang jadi awet muda, karena air yang membasuh wajah ketika berwudhu dapat meremajakan sel-sel kulit wajah, serta membantu mencegah penuaan dini.
  5. Bebas dari kuman jahat
    Kuman jahat mampu tumbuh dan berkembang dimana saja. Bahkan di setiap gagang pintu anda, di atas sprei, uang, maupun di tempat nonton televisi anda merupakan tempat perkembangan kuman yang baik. Oleh sebab itu, anda di haruskan untuk selalu dalam keadaan bersih. Apalagi ketika tidur. Salah satu solusinya adalah dengan wudhu sebelum tidur. Penelitian terakhir menyebutkan bahwa wudhu mampu mengurangi kuman kuman yang hidup dalam tubuh anda.

Sebagai umat Islam, sekiranya dengan benar-benar menjalankan perintah Allah, menjauhi yang Dia larang, dan menjaga wudhu seperti anjuran Rasulullah, secara alami kita dapat terhindar dari ancaman berbagai penyakit, terutama yang sekarang tengah menjadi momok bagi masyarakat seluruh dunia yaitu covid-19 atau virus corona.

Maka maha sempurna Allah pencipta manusia, yang dengan kesempurnaan ajarannya, perintah dan larangannya adalah semata-mata untuk kebaikan manusia pula. Allahua’lam bishshowab.

(Zein, 16 Maret 2020)

Sumber:
-Al Qur’an Al-karim
-Kitab Bulughul Maram bab wudhu, Ibnu Hajar Al-Asqalani
-https://m.merdeka.com/trending/10-manfaat-wudhu-bagi-kesehatan-baik-untuk-jantung-dan-cegah-kanker-kln.html

SMA Al-Ammar Mengadakan “Diskusi Sains Dalam Al-Quran Bukti Kekuasaan Allah SWT” Bersama Dr. Amiruddin Bin Mohd Sobali dari Universitas Sains Islam Malaysia 29 Februari 2020

Studi Banding di Pondok Pesantren Baitul Qur’an Sragen 1 Februari 2020

Studi Banding SMA Sains Al-Qur’an Wahid Hasyim Yogyakarta 31 Januari 2020